Kisah Usai Perang

Penerbit; Katahati Institute

Menulis kekinian Aceh adalah merangkai kisah-kisah dalam ruang damai yang masih muda. Empat tahun lebih sedikit, bukanlah waktu lama untuk melihat kondisi tak miris. Kendati banyak yang merasakan tenteram, tapi masih ada riwayat duka, nestapa ketika sebuah tanya ditebarkan ke warga di empat penjuru Bumi Serambi. Apakah damai sudah membawa sejahtera?

Inilah laporan yang coba merekam kisah-kisah kecil yang tersangkut pada bingkai besar perdamaian, setelah MoU Helsinki disepakati oleh Pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) untuk mengakhiri perang, 15 Agustus 2005 silam. Damai setidaknya mengisi hari-hari masyarakat yang langsung maupun tidak terimbas konflik.

Nyaman tentu ada, tapi banyak cerita lainnya. Mungkin jauh dari kata sempurna, karena buku ini lahir dari tangan mereka yang minim pengalaman. Ibarat seorang gadis yang ingin merangkai bunga plastik, kusut di sana-sini adalah hal biasa. Mereka semua pemula, yang menabalkan sebuah cita untuk menjadi penulis. Coba merekam sejarah yang bergelimpangan pada setiap jengkal tanah ‘Negeri Seulanga’.

Sudah menjadi pepatah tak bertuan bahwa masyarakat kita ahli berkata-kata, debat sudah biasa didendangkan dalam setiap temu di warung-warung. Tak sulit meminta seorang untuk cerita lisan satu kisah panjang, tapi bila disuruh menulis, akan banyak yang angkat tangan. Dari situ, mungkin menjadi kewajiban semua kita mengubah pelan cara pandang, agar menulis menjadi gampang. Sebuah usaha coba dibentuk, mendidik para generasi muda untuk menjadi penulis. Ditempa dalam pelatihan tak lama agar mampu meramu kata layaknya jurnalis, kolumnis maupun cerpenis.

Setelah dilatih seminggu lebih, para pemula kemudian dipandu menulis fakta, memotret kisah-kisah dalam tema besar perdamaian Aceh, sesuai dengan tema pelatihan itu sendiri, ‘Studi Antropogi dan Jurnalisme Damai’. Sebuah kerja nyata membungkam tradisi lisan menuju tulisan. Lahirlah kemudian buku ini.

Para penulisnya adalah anak kampus, dari berbagai latar dan asal daerah. Hingga tanpa sengaja menjadikan buku ini kaya kisah yang terserak dari berbagai pelosok di Aceh. Tentang kenyamanan sesudah perang, tentang hidup semakin tertib, juga tentang ketidak-adilan dalam damai dan tentang damai yang belum membawa perubahan. Lalu ada kisah-kisah yang sukses setelah usai perang seperti Pawang Raket dengan Kipang Gring-nya, ada kisah Janda di Kampung Konflik dan puluhan lainnya yang mungkin menggambarkan, inilah Aceh sekarang.

Kendati pemula yang menulis, agaknya laporan-laporan di dalamnya tidaklah terlalu buruk untuk dibaca. Sekadar menikmati Aceh yang dipotret dari sisi lain. Tapi yang lebih penting, mereka telah mencoba menulis, membuang sejenak lakon lisan. Bagi saya, inilah buku para generasi yang akan menulis sejarah Aceh ke depan.

Pengantar Editor
Adi Warsidi
Editor

Lebih Lengkap Baca Di sini

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.